Setelah tertunda lima tahun, akhirnya National Aeronautics and Space Administration (NASA) akan meluncurkan sebuah satelit pengamatan bumi.
Satelit itu diluncurkan untuk meningkatkan pemantauan memperkirakan cuaca dan perubahan iklim.
Seperti dilansir News Yahoo, Selasa (25/10/2011), "Kami sudah mengalami 10 kejadian cuaca yang terpisah, masing-masing menimbulkan setidaknya USD1 Triliun kerugian," kata Louis Uccelini dari National Oceninc and Atmospheric Administration.
Satelit akan berangkat sebelum fajar pada hari Jumat dari Vandenberg Air Force Base, California, dengan roket Delta 2 yang akan mendorong ke ketinggian orbit sekitar 500 mil (800 kilometer).
Satelit seharusnya meluncur pada tahun 2006, tapi karena terjadi masalah terpaksa peluncurannya ditunda. NASA menginvestasikan sekira USD895 juta dalam misi ini.
Saat peluncurannya, NASA mengundang 20 'pengikut' Vandenberg di Twitter dan mereka akan duduk di baris depan untuk melihat peluncuran satelit.
Setelah di orbit, satelit ini akan menghabiskan lima tahun ke depan untuk mengitari bumi dari kutub ke kutub. Data akan ditransmisikan ke 'ground station' di Norwegia dan kemudian diarahkan ke Amerika Serikat (AS)
National Aeronautics and Space Administration (NASA) Luncurkan Satelit Peemantau Global Warming
Written By Uneg Uneg on Minggu, 13 November 2011 | Minggu, November 13, 2011
Satelit Phobos-Grunt Milik Rusia Gagal menuju Mars
Rusia terus melakukan upaya untuk mendapatkan kembali kontrol pada satelitnya yang terjebak mengelilingi bumi. Satelit Phobos-Grunt merupakan misi Rusia yang diluncurkan pada Rabu lalu, namun gagal menuju Mars.
Dilansir BBC, Minggu (13/11/2011), insinyur telah menggunakan stasiun pelacakan untuk berbicara dengan satelit dan mendiagnosa masalahnya, tapi sayangnya upaya itu tidak berhasil.
Sementara itu The European Space Agency Spacecraft Operation Centre (Esoc) Jerman kini terlibat untuk membantu membangun link, dengan menggunakan antena di Giyana, kepulauan Canary dan daratan Spanyol.
Tidak hanya Esoc, US Space Agency (NASA) juga menawarkan bantuan untuk melakukan sesuatu yang bisa mengontrol kembali pesawat luar angkasa itu.
Direktur eksplorasi Mars NASA, Doug McCuistion mengatakan, "Kami telah menawarkan bantuan jika mereka membutuhkannya, dan kami akan menyediakan yang terbaik semampu kami."
Jika Phobos-Grunt benar-benar hilang, maka kelompok-kelompok profesional akan melakukan upaya untuk menentukan secara tepat tempat dan waktunya pesawat luar angkasa itu turun.
Seperti UARS, kendaraan luar angkasa akan terbakar di atmosfer, tetapi setiap bagian yang terbuat dari suhu tinggi logam, seperti titanium atau stainless steel memiliki kesempatan untuk jatuh ke permukaan
Manusia Berasal Dari Ikan?
Written By Uneg Uneg on Minggu, 09 Oktober 2011 | Minggu, Oktober 09, 2011
Sebuah tim peneliti Australia telah mempelajari evolusi otot kaki belakang ikan paru-paru (lungfish) sehingga dapat berjalan di darat. Hasil penelitian itu memberi petunjuk baru tentang bagaimana evolusi berlangsung pada tetrapoda --makhluk berkaki empat, dan nenek moyang kita-- yang membuat langkah-langkah kecil pertama di tanah 400 juta tahun yang lalu.
"Manusia hanya ikan modifikasi. Genom ikan tidak jauh berbeda dari kita sendiri ," kata Profesor Peter Currie, peneliti Regenerative Medicine Institute Monash University, Australia, seperti dilansir ScienceDaily, Jumat (7/10) atau Sabtu (8/10) WIB.
Bersama Nicolas Cole, dari University of Sydney, Prof Currie melaporkan penelitian mereka di jurnal PloS Biology. Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa spesies ikan paru-paru purba adalah nenek moyang dari tetrapoda. Ikan ini bisa bertahan di darat, menghirup udara, dan menggunakan sirip panggul mereka untuk mendorong diri mereka sendiri.
Australia adalah rumah bagi tiga spesies dari ikan paru-paru. Tim peneliti menggunakan ikan yang hidup hari ini untuk melacak evolusi otot-otot sirip panggul untuk mengetahui bagaimana beban kaki belakang berevolusi pada tetrapoda.
Mereka menemukan bahwa ikan bertulang memiliki mekanisme untuk membentuk otot sirip panggul, suatu mekanisme yang adalah batu loncatan untuk evolusi tetrapoda.
Air dan Samudra Di Bumi Berasal Dari Komet
Astronom mengemukakan bahwa air dan samudera yang terdapat di bumi berasal dari komet. Hal ini diungkapkan menyusul hasil analisa komet Hartley 2 dengan Herschel Space Observatory yang dipublikasikan di jurnal Nature, Rabu (5/10/2011) lalu.
"Hasil penemuan kami menunjukkan, komet memiliki peran besar membawa air dalam jumlah besar ke bumi purba. Ini memperluas kemungkinan sumber air serupa samudera Bumi di Tata Surya, yang kini mencakup komet dari Sabuk Kuiper," kata Dariusz Lis dari California Institute of Technology.
Komet Hartley 2 adalah komet yang berasal dari Sabuk Kuiper, wilayah berjarak 30-50 kali jarak bumi-matahari yang merupakan kampung halaman dari planet kerdil dan komet. Komet Hartley 2 diketahui memiliki air yang dengan sifat kimia mirip dengan air di bumi.
Ilmuwan lewat teorinya mengungkapkan, bumi pada awalnya panas dan kering sehingga air sebagai unsur kehidupan pasti berasal dari asteroid ataupun komet yang menumbuk bumi. Hingga sebelum penemuan Hartley 2, tak ada bukti bahwa komet memiliki air serupa di bumi.
Dalam penelitian, dengan bantuan Herschel, astronom mengobservasi coma Hartley 2. Coma adalah bagian yang terbentuk akibat adanya materi komet yang menguap saat komet bergerak mendekati Matahari. Pada coma itulah, ilmuwan menemukan tanda adanya uap air.
Hasil analisa lebih lanjut mengungkap bahwa Hartley memiliki air berat dan air reguler dengan proporsi sama dengan bumi. Air reguler ialah air yang biasa kita kenal, H2O. Seementara air berat adalah air yang molekul hidrogen-nya digantikan oleh deuterium.
Ilmuwan mengungkapkan, saat ini, ada 5 komet yang rasio air berat dan air regulernya telah diketahui. Kelimanya berasal dari Awan Oort, sebuah daerah tata surya yang jaraknya 10.000 kali jarak ke Sabuk Kuiper dan merupakan daerah asal dari sebagian besar komet yang telah terdata.
Sampai sejauh ini, ilmuwan beranggapan bahwa depositor besar air di bumi adalah asteroid yang berasal dari daerah antara Mars dan Jupiter. Hasil analisa Hartley 2 membuat ilmuwan berpikir bahwa komet dari Sabuk Kuiper yang selama ini dianggap kurang berperan ternyata punya kontribusi.
Bagaimana proses komet dan asteroid datang dan 'menciptakan' air di bumi masih menjadi teka-teki. Geoffrey Blake, professor ilmu keplanetan dari Caltech yang juga terlibat penelitian ini mengatakan, pemahaman tentang distribusi unsur dan dinamika tata surya belum lengkap.
Seperti dikutip Physorg Rabu lalu, Blake mengatakan, "Pada awal tata surya, komet dan asteroid pasti bergerak ke semua tempat. beberapa dari mereka mungkin mendarat dan menabrak di planet kita, lalu menciptakan samudera," katanya.
Supernova Nebula Kepiting Memancarkan Sinar Gama Lebih Besar
Nebula Kepiting atau sering disebut juga Crab Nebula adalah salah satu sisa-sisa ledakan bintang (supernova) yang paling menarik perhatian para astronom. Supernova yang membentuk kabut indah itu ditemukan tahun 1968. Namun, baru-baru ini para peneliti menyadari bahwa supernova itu memancarkan sinar gama jauh lebih besar daripada yang dapat dijelaskan oleh model ilmiah saat ini.
Para pengamat bintang yang menggunakan rangkaian teleskop VERITAS di Observatorium Whipple, Arizona, AS, telah mendeteksi bahwa bintang pulsar neutron muda di pusatnya memiliki energi lebih dari 100 miliar elektron volt (100 GeV). Demikian ditulis tim internasional dalam paper yang dipublikasikan jurnal Science, 7 Oktober 2011.
"Temuan ini memunculkan pandangan baru mengenai bagaimana mekanisme pancaran sinar gama terbentuk," ujar Nepomuk Otte, salah satu peneliti dari Universitas California, Santa Cruz.
Para ilmuwan sejak lama meyakini bahwa emisi pulsar dimunculkan oleh daya elektromagnetik yang terbentuk ketika sebuah medan magnet bintang yang berputar cepat menggerakkan partikel-partikel bermuatan sehingga ikut berputar mendekati kecepatan cahaya. Perputaran itu menghasilkan radiasi dalam berbagai spektrum.
Meski begitu, detail mekanisme tersebut masih misterius, dan para peneliti menyatakan bahwa temuan terbaru saat ini makin membuat mereka tidak mengerti bagaimana proses tersebut berlangsung.
"Setelah mengamati Nebula Kepiting bertahun-tahun, kami mengira bisa memecahkan teka-teki bagaimana pancaran gama dihasilkan. Model yang kami buat memprediksi emisi spektrumnya sekitar 10 GeV," kata David Williams, seorang ilmuwan fisika di Santa Cruz. "Namun, sungguh mengejutkan saat kami menemukan bahwa pancaran sinar gama itu memiliki energi di atas 100 GeV," lanjutnya.
Adapun bintang pulsar Kepiting terbentuk dari inti bintang raksasa yang meledak dalam supernova yang spektakuler tahun 1054. Ia menjadi pusat dari Nebula Kepiting yang merupakan kabut-kabut indah di alam semesta. Bintang pulsar yang relatif muda itu berputar dengan kecepatan 30 kali per detik dan menghasilkan medan magnet yang memancarkan radiasi. (AFP)
Pesawat Tanpa Awak Amerika Serikat Terinfeksi Virus
Sejenis virus komputer telah menginfeksi armada pesawat tanpa awak Predator dan Reaper milik AS di pangkalan Angkatan Udara Creech, Nevada. Virus yang terdeteksi sekitar dua minggu lalu itu mampu melacak apa yang diketik oleh pengendali yang berada di darat.
Sejauh ini pihak militer belum menemukan insiden bocornya informasi ke pihak luar karena virus tersebut, tetapi mereka juga belum bisa mengenyahkan virus tersebut. "Kami sudah berusaha menghilangkannya, tetapi program itu terus muncul," ujar seorang sumber militer AS seperti dikutip AFP, Jumat (7/10/2011).
Seorang pakar jaringan militer mengaku, pihaknya masih belum mengetahui apakah keberadaan virus itu adalah suatu kesengajaan dan seberapa jauh ia menyebar, tetapi mereka memastikan bahwa "program penyusup" itu telah menginfeksi mesin-mesin yang sifatnya rahasia. Karenanya, kekhawatiran terbesar adalah bocornya data ke pihak-pihak di luar militer.
Virus tersebut diyakini menyebar melalui removable hard drive yang dipakai untuk menginstal peta-peta terbaru dan merekam video-video misi dari satu komputer ke komputer lain. Agar virus tidak semakin menyebar, unit-unit pesawat tanpa awak di pangkalan lain diperintahkan tidak menggunakan sistem itu lagi.
Pesawat tanpa awak adalah salah satu mesin perang andalan AS di berbagai medan, seperti di Afganistan, Libya, atau Pakistan. Di Pakistan saja, sekitar 30 serangan pesawat tanpa awak dilaporkan sejak pasukan khusus AS membunuh pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, 2 Mei lalu. ( AFP)
eLEGS Robot Untuk Penderita Lumpuh
Written By Uneg Uneg on Sabtu, 08 Oktober 2011 | Sabtu, Oktober 08, 2011
Penelitian yang didanai Pentagon atau Departemen Pertahanan AS telah membuat orang tersesat menemukan jalan benar, penderita rabun melihat di kegelapan, dan orang-orang dapat terus berhubungan secara online. Penelitian itu kini membuat para penderita lumpuh bisa berjalan.
Dari dana penelitian tersebut, Berkeley Bionics di California memperkenalkan "robot yang bisa dikenakan" bernama eLEGS, diadaptasi dari teknologi yang sedang diujicobakan pada prajurit AS. Pengguna membawa tas punggung berisi baterai dan mikroprosesor, lalu mengenakan kaki bionik dengan sendi bermotor di pinggul dan lutut.
Uji coba dimulai tahun ini. Sementara, eLEGS hanya tersedia bagi pasien dengan tinggi di bawah 188 sentimeter dan berat 100 kilogram dengan tubuh bagian atas yang kuat. Pada 2013, model yang lebih tangguh dan fleksibel mungkin akan tercipta di masa depan.(National Geographic Indonesia)
Gel Polimer Gantikan Elektrolit Untuk Baterai
Baterai litium yang digunakan dalam komputer jinjing masih menjadi penentu utama ukuran dan berat komputer. Baterai ini menggunakan cairan elektrolit yang mudah menguap dan berbahaya.
Panas yang dihasilkan baterai bisa memicu kebakaran komputer jinjing. Selain di komputer, baterai model ini banyak digunakan dalam mobil listrik. Selain mahal dan berat, efisiensi baterai ini sangat rendah.
Untuk mengatasi, sejumlah peneliti dari Universitas Leeds, Inggris, yang dipimpin Ian Ward, meneliti baterai yang menggunakan gel sebagai pengganti cairan elektrolit.
"Gel polimer ini mirip seperti lapisan film yang solid meski 70 persen berupa elektrolit cair," kata Ward kepada BBC, Sabtu (10/9/2011).
Penggunaan gel akan mencegah pemanasan pada baterai yang dapat mencapai puluhan derajat celsius. Selain akan menghasilkan baterai berukuran lebih kecil dan lebih aman, para peneliti menjanjikan harga baterai ini lebih murah 10-20 persen. (BBC)
Misi European Space Agency (ESA) Ukur Angin Matahari
European Space Agency (ESA) mengumumkan dua misi ruang angkasa berikutnya, Selasa (4/10/2011). Wahana milik ESA akan mendekati permukaan matahari untuk mengukur angin dan pengaruhnya terhadap planet. Selain itu, mereka akan mencari energi hitam dan mempercepat ekspansi luar angkasa.
ESA melakukan misi ini sehubungan dengan adanya perkiraaan bahwa gelombang matahari yang mencapai Bumi di tahun 2013. Misi yang meneliti tentang gerak-gerik matahari ini akan lebih detail dibandingkan dengan misi sebelumnya. Dari sini maka akan diketahui kecepatan dan jenis angin yang ada di matahari.
Setelah melakukan penelitian terhadap matahari, ESA akan berekspansi ke misi Euclid yang lebih sulit lagi. Euclid seperti sebuah teleskop ruang yang memetakan skala struktur alam semesta dengan akurasi dan kecepatan yang tak tertandingi. Misi ini akan mencari energi hitam dengan jarak 10 miliar tahun cahaya. Euclid kemudian akan merekonstruksi proses perluasan alam semesta dan perkembangannya.
Misi ini akan menjadi yang pertama di ESA's Cosmic Vision 2015-2025 yang bakal menjawab beberapa pertanyaan, seperti cara kerja tata surya, hukum alam semesta, formasi planet, dan sejarah terbentuknya alam semesta.
Menurut ESA, gelombang matahari yang diperkirakan mencapai Bumi pada 2013 tersebut akan melumpuhkan beberapa bagian di Bumi ini. Setelah kejadian itu usai, pada 2017 nanti, ESA akan meluncurkan misi yang pertama untuk menelitinya. (National Geographic Indonesia
Daun Silikon Hasilkan Listrik
Sekelompok peneliti asal Amerika Serikat menyebutkan bahwa mereka berhasil membuat "daun" yang terdiri dari silikon dan menggunakan sinar matahari untuk memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen. Setelah terpisah, kemudian zat-zat itu bisa disimpan ke sel bahan bakar untuk menghasilkan listrik.
"Kalau Anda meletakkan daun silikon itu di dalam segelas air lalu membawanya ke luar dan menjemurnya di bawah sinar matahari, Anda akan mulai melihat gelembung-gelembung hidrogen dan oksigen," kata Daniel Nocera, seorang profesor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), ketua tim peneliti yang menemukan teknologi tersebut.
Daun buatan ini diharapkan akan dapat mengatasi masalah yang dihadapi pembangkit listrik tenaga matahari terkait bagaimana menyimpan energi yang diproduksi oleh matahari sehingga bisa digunakan saat cuaca mendung. Bukan dengan melakukan isi ulang terhadap baterai, melainkan menyimpan energi itu sebagai gas oksigen dan hidrogen untuk kemudian dikombinasikan di dalam sel bahan bakar untuk menghasilkan listrik.
Langkah berikutnya, kata Nocera, adalah mengoptimalkan teknologi itu dalam menghasilkan hidrogen dan oksigen bagi sel bahan bakar untuk memasok energi untuk mobil atau rumah. "Saya tidak perlu memiliki kabel-kabel berseliweran. Tidak perlu menancapkannya ke apa pun," ucapnya. "Itulah yang dilakukan daun tersebut. Mereka mengambil sinar matahari lalu menghasilkan energi secara nirkabel. Itu yang terjadi di sini," ucap Nocera. (National Geographic Indonesia)
Kontrol Listrik Lewat Ponsel
Written By Uneg Uneg on Kamis, 06 Oktober 2011 | Kamis, Oktober 06, 2011
Selama ini masyarakat membayar listrik dari tagihan yang diberikan PLN tanpa pernah tahu bagaimana cara menghitung biaya dari masing-masing alat listrik yang mereka punya. Bagaimana jika Anda bisa menghitung tagihan listrik setiap bulan dari ponsel pintar anda setiap hari?
Shuichi Ishibashi dari Jepang, sudah mengembangkan teknologi ELP yang menghubungkan alat-alat listrik di rumah dengan ponsel pintar melalui server yang dibangun di rumah. Penggunaan listrik akan terekam setiap hari dan disalurkan ke server. Rekaman penggunaan listrik tersebut bisa diakses melalui website melalui komputer rumah atau laptop.
"Anda juga bisa men-download aplikasi ELP dari website tersebut agar bisa digunakan untuk ponsel pintar seperti iPhone dan Android. Caranya seperti men-download aplikasi Twitter untuk ponsel pintar," ujar Shuichi saat ditemui Kompas.com dalam E-idea Regional Training, Senin (3/10/2011) lalu.
Setelah aplikasi diinstal di ponsel, pelanggan bisa mendapatkan informasi seputar penggunaan listrik di rumah setiap hari. Jumlah kilowatt yang telah habis sekaligus biaya yang akan dikeluarkan akan dihitung otomatis, sehingga pelanggan bisa menghemat penggunaan listrik apabila sudah terlihat berlebihan. Alat ini dijual Shuichi dengan harga 100 dollar AS per lima alat listrik dan berlaku kelipatannya.
Shuichi mengembangkan teknologi ini bersama temannya, Takayaki Miyauchi. Keduanya membangun perusahaan start-up yang bernama Sassor sejak September tahun 2010 dan melakukan penelitian selama satu tahun. Tahun ini, setelah penelitian mereka menghasilkan sebuah produk, mereka pun mengikutsertakan teknologi yang mereka kembangkan pada Kompetisi E-Idea yang diadakan British Council.
Saat ini, Shuichi telah bekerja sama dengan investor Kentaro Sekakibane (yang memiliki incubator start-up), juga mendapat dukungan dari Venture Capital Digital Orange, dan kerja sama dengan dua perusahaan lainnya yakni Net Price dan Ubiquitos. Website http://sassor.com merupakan kerja sama Sassor dengan TechCrunch.
Shuichi dengan teknologi ELP yang dibangunnya bersama perusahaan Sessor, memenangkan kompetisi E-Idea di Jepang. Selain mendapat dana untuk mengembangkan perusahaannya, Shuichi juga mendapat kesempatan mengikuti Regional Training E-Idea di Jakarta, bertemu dengan 39 pemenang lainnya dari 7 negara se-Asia Pasifik.
"Saya berharap dengan memenangkan kompetisi ini, perusahaan saya bisa berkembang dan teknologi ini bisa diproduksi secara missal di Jepang, sehingga harga jualnya lebih murah," tutup Shuichi.
Ditemukan Buah Perubah Rasa Pahit Menjadi Manis
Written By Uneg Uneg on Minggu, 02 Oktober 2011 | Minggu, Oktober 02, 2011
Buah ajaib yang bentuknya seperti cranberry memiliki kemampuan untuk mengubah rasa makanan yang asam atau pahit menjadi manis. Misteri bagaimana buah tersebut mampu mengubah rasa telah berhasil dipecahkan ilmuwan baru-baru ini.
Buah ajaib ini merupakan buah dari tanaman Synsepalum dulcificum yang tumbuh secara alami di Afrika barat. Khasiatnya yang bisa mengubah rasa makanan yang asam atau pahit menjadi manis sudah lama dikenal penduduk setempat. Namun, tim peneliti dari Jepang dan Perancis-lah yang baru bisa menjelaskannya secara ilmiah.
Untuk mengujinya, tim tersebut menumbuhkan sel ginjal manusia dalam sebuah cawan yang dirancang untuk memproduksi protein reseptor rasa manis. Mereka kemudian menambahkan bahan kimia yang menyebabkan sel-sel reseptor menyala ketika diaktifkan. Setelah itu miraculin, protein dalam buah ajaib yang berfungsi mengubah rasa menjadi manis, ditambahkan ke dalam cawan. Terakhir, ditambahkanlah beberapa zat yang memiliki tingkat keasaman (pH) berbeda.
Setelah diamati, miraculin ternyata memiliki tiga dampak berbeda pada reseptor. Pada tingkat keasaman rendah, efeknya terhadap reseptor amat kecil. Sementara pada tingkat keasaman sedang, miraculin mendorong reseptor untuk bereaksi. Dan, pada tingkat keasaman tinggi, reseptor secara otomatis aktif bereaksi.
Menurut para peneliti, perbedaan dampak itu terjadi karena protein miraculin berubah bentuk saat terkena asam. Semakin tinggi tingkat keasamannya, bentuknya akan semakin berubah. Karena protein terikat amat kuat pada reseptor di lidah manusia, perubahan bentuk protein miraculin mengubah cara resptor lidah bereaksi ketika asam masuk ke mulut. Singkatnya, semakin tinggi pH dalam suatu zat, seseorang akan merasakannya menjadi semakin manis.
Hasil riset yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences ini membuka kemungkinan diciptakannya pemanis buatan baru. Setelah cara kerja miraculin terungkap, para peneliti berupaya untuk membuat protein tersebut di laboratorium, alih-alih hanya bergantung pada sumbernya di alam.c (National Geographic Indonesia)
Ilmuan Ungkap Virus Influenza Penyebab Kematian Tentara AS
Written By Uneg Uneg on Senin, 26 September 2011 | Senin, September 26, 2011
Ilmuwan National Institute of Health (NIH) berhasil menemukan virus influenza pada jaringan paru-paru dan dari bahan otopsi lain dari 68 prajurit AS yang tewas setidaknya empat bulan sebelum penyakit ini memasuki tingkat pandemi pada musim gugur 1918.
Menurut keterangan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) NIH, sebanyak empat prajurit yang tewas antara Mei-Agustus 1918 menjadi butki paling awal kasus pandemi influenza 1918 yang telah didokumentasikan di seluruh dunia.
Kerusakan klinis yang tampak pada kasus ini dapat dibedakan dari apa yang tampak dalam kasus yang terjadi selama peningkatan pandemi yang menunjukkan virus ini tak mengalami perubahan dramatis.
“Hal inilah yang menjelaskan ketidakbiasaan tingkat mortalitas yang muncul,” ujar peneliti NIAID Jeffery K. Taubenberger seperti ditulis UPI.
Bagaimanapun juga, bakteri penginfeksi seperti pneumonia yang ditemukan di 68 kasus menyorot peran mematikan infeksi semacam ini bisa memainkan konjungsi pada virus influenza apa pun.
Hal ini menunjukkan, pihak berwenang perlu menyiapkan pencegahan, pendeteksian dan penanganan bakteri ini selama wabah flu di masa depan.
Babun Memiliki Kemampuan Adaptif Untuk Beranalogi Seperti Manusia
Written By Uneg Uneg on Minggu, 25 September 2011 | Minggu, September 25, 2011
Selama ini dipahami bahwa kemampuan beranalogi adalah kemampuan unik manusia, yang disampaikan melalui kemampuan berbahasa.
Namun sebuah penelitian yang dilakukan Homo Joel dari Laboratoire de Psychologie Cognitive Université de Provence, Perancis, dan Roger Thompson dari College Franklin & Marshall, Lancaster, Pennsylvania, Amerika Serikat, telah menunjukkan bahwa babun mampu membuat analogi.
Hasil penelitian dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science yang dirilis ScienceDaily, Sabtu (24/9/2011) waktu setempat atau Minggu (25/9/2011) WIB.
Untuk waktu yang lama, para peneliti percaya bahwa jenis penalaran analogis adalah mustahil tanpa bahasa dan bahwa itu adalah terbatas pada manusia atau, paling jauh, kera besar yang telah diajarkan bahasa. Namun, kedua peneliti tersebut mencoba kemampuan analogi itu terhadap babun.
Mereka melakukan percobaan terhadap 29 babun (Papio papio) dengan beragam usia, yang secara bebas bisa melakukan latihan analogi.
Babun-babun ini ditunjukkan dua bentuk geometris, yaitu dua kotak pada layar sentuh. Setelah babun menyentuh salah satu dari bentuk-bentuk ini, dua pasangan bentuk geometris lain muncul di layar, seperti segitiga dan bintang, untuk pasangan pertama dan dua oval identik untuk pasangan kedua.
Untuk berhasil menyelesaikan latihan dan dihargai, hewan itu menyentuh pasangan yang mewakili hubungan yang sama sebagai pasangan awal. Dalam hal ini adalah dua oval.
Dari hasil percobaan itu, dengan kata lain, menunjukkan bahwa babun tersebut mampu mendeteksi hubungan, yang merupakan definisi analogi.
Setelah periode pembelajaran intensif mencakup beberapa ribu tes, enam babun melakukan tugas dengan benar, hal ini menunjukkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah analogi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa tidak diperlukan dalam menentukan kemampuan beranalogi.
Bagaimana hewan mampu beranalogi? Jawabnya adalah kemampuan adaptif yang dimiliki babun-babun itu, yang menyebabkan transfer pengetahuan dari satu bidang ke bidang lainnya
Telur Aneh dan Misterius Di Temukan Di Alaska
Written By Uneg Uneg on Selasa, 13 September 2011 | Selasa, September 13, 2011
Pekan lalu, sebuah material misterius berwarna oranye muncul di kutub utara Bumi. Para ilmuwan belum dapat memberikan jawaban yang pasti untuk menjelaskan material tersebut.
Material tersebut tersapu gelombang di sepanjang pesisir Arktika di Kivalina, Alaska dan membanjiri Desa Inupiat, Eskimo. Di sana, matahari mengeringkan material dan angin menyebarkannya bagai debu. Ketika ditemukan beberapa kilometer di kawasan air tawar Sungai Wulik, material oranye itu berubah menjadi liat dan lengket serta mengeluarkan bau seperti gas.
Anehnya, saat diambil dari laut, substansi itu tidak memiliki bau dan ‘sangat lembut. "Bentuknya seperti minyak bayi," kata Janet Mitchell, seorang pejabat kota Kivalina.
Setelah gelombang tinggi menyapu material oranye itu pergi, masyarakat setempat baru menyadari bahwa material mungkin pula beracun. Pasalnya, sejumlah ikan kecil mati setelah material itu hadir di pantai. Akan tetapi, ilmuwan belum dapat memastikan hal tersebut.
Sampel material dikirimkan ke Auke Bay Laboratories milik NOAA Alaska Fisheries Science Center di Juneau untuk diidentifikasi. Di bawah mikroskop, tampak struktur seluler yang berbentuk seperti manik-manik, memberi petunjuk bahwa material jingga itu merupakan serangkaian telur-telur ikan.
Akan tetapi, ahli biologi kelautan tidak menganggap ikan-ikan kecil yang mati merupakan induk telur-telur tersebut. "Kami telah menentukan bahwa ini merupakan telur hewan invertebrata kecil meski kami tidak bisa menyebutkan spesiesnya secara pasti," kata Jeep Rice, seorang ketua ilmuwan NOAA di laboratorium Juneau.
"Saat ini kami perkirakan bahwa material jingga merupakan telur atau embrio sejenis binatang air kecil berkulit keras. Tetesan molekul yang larut dalam lemak di bagian tengah yang menyebabkan munculnya warna oranye," ucapnya.
Kivalina Village dan lab NOAA di Juneau kini menunggu kabar dari laboratorium lain di South Carolina yang memiliki spesialisasi di pertumbuhan fitoplankton untuk mempelajari identitas induk dari telur-telur yang menginvasi itu. "Kami sangat tidak sabar untuk mengetahuinya," kata Julie Speegle, juru bicara lab Juneau. (nationalgeographic)
Ilmuwan Ciptakan Hujan Dengan Sinar Laser
Written By Uneg Uneg on Senin, 12 September 2011 | Senin, September 12, 2011
Obsesi manusia untuk membuat hujan buatan terus berlanjut. Kini, para peneliti mengatakan bahwa mereka bakal bisa menciptakan titik-titik air dengan menggunakan sinar laser berkekuatan tinggi.
Menggunakan teknik yang disebut dengan laser-assisted water condensation (pengembunan air dibantu laser), tim peneliti dari Inggris tersebut juga bisa mengungkap rahasia siklus air dan membantu manusia memutuskan kapan dan di mana hujan bisa diturunkan.
Teknik ini terbilang segar dan "aman". Sebelumnya, ide membuat hujan buatan dengan teknik "mengumpan awan" dipandang tidak ramah lingkungan. Pasalnya, partikel kimia yang digunakan dalam proses itu (es kering dan perak iodida) dianggap tidak ramah lingkungan. Sementara teknik laser ini menggunakan tingkat kelembapan dan kondisi atmosfer yang alami untuk menciptakan titik-titik air.
"Laser bisa digunakan secara terus-menerus, mudah diarahkan, dan tidak menyebarkan perak iodida dalam jumlah banyak ke atmosfer," kata ahli fisika Jerome Kasparian dari University of Geneva. Teknik ini, imbuhnya, juga memungkinkan kita menghidup-matikan laser kapan pun kita mau, memudahkan dalam mengevaluasi dampak-dampaknya.
Tim peneliti melakukan percobaan dengan laser ini di tepi Sungai Rhone, dekat Danau Geneva, setelah membangun instalasi laser raksasa bergerak. Setelah 133 jam menembakkan sinar laser berintensitas tinggi, yang menciptakan partikel asam nitrat di udara, menghasilkan ikatan antarmolekul air dan menghasilkan tetes-tetes air. Meski belum benar-benar menurunkan hujan, tim ilmuwan optimistis bisa memanipulasi kondisi cuaca.
Ide mengubah dan mengontrol cuaca bukanlah gagasan baru. Pada 1946, Vincent Schaefer mengembangkan teknik mengumpan awan (cloud-seeding), yang masih digunakan sampai sekarang. Di China, pemerintahnya mengoperasikan sistem pengumpan awan terbesar di dunia untuk menciptakan hujan di wilayah-wilayah yang tandus, bahkan di Beijing. (dailymail)
Satelit NASA Akan Jatuh Ke Bumi Akhir Bulan Ini
Pojokberita.com - NASA memberikan peringatan bahwa The Upper Atmosphere Research Satellite (UARS), satelit yang sudah mati, akan jatuh ke Bumi dalam enam minggu ke depan ini. Kendati begitu, NASA belum bisa memprediksi tanggal yang tepat mengenai jatuhnya satelit ini.
UARS adalah satelit yang diluncurkan pada tanggal 15 September 1991 oleh pesawat luar angkasa Discovery dan diperkirakan masuk Bumi pada akhir bulan ini atau awal Oktober mendatang. Satelit ini sudah tidak berfungsi sejak 14 Desember 2005 dan pada pada dasarnya didesain untuk misi selama 3 tahun.
UARS mengandung senyawa kimia yang diperoleh dari lapisan ozon, angin, dan suhu di stratosfer, serta masukan energi dari Matahari.
Satelit ini memiliki panjang 11 meter dan diameter mencapai 4,5 meter. Seperti dikutip dari TG Daily, meski satelit ini akan menjadi potongan-potongan terpisah saat masuk ke Bumi, tapi tidak semua bagian terbakar di atmosfer.
Risiko menyangkut keselamatan publik dan beberapa bangunan yang mungkin terkena reruntuhan dari UARS sangat tinggi. NASA mengimbau agar pihak-pihak yang menemukan potongan satelit dari ruang angkasa ini menghindar. Semua pihak pun diminta proaktif melaporkan kepada yang berwajib jika menemukan potongannya.
Data terbaru menunjukkan, UARS mengorbit 155 sampai 280 kilometer dengan kemiringan 57 derajat ke arah khatulistiwa. NASA memperkirakan bangkai satelit ini akan mendarat pada suatu tempat antara 57 derajat khatulistiwa ke arah selatan atau 57 derajat ke arah utara.
Bila benda ini tidak terbakar di atmosfer, maka akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran yang sangat parah terhadap beberapa bangunan di Bumi. (fz/dailymail)
Capit Kepiting Jantan Sumber Perhatian Kepiting Betina
Written By Uneg Uneg on Minggu, 11 September 2011 | Minggu, September 11, 2011
Capit kepiting merupakan alat mencari mangsa sekaligus pertahanan untuk bersaing dengan kepiting lainnya. Tidak hanya itu, ukuran capit pun menentukan keunggulannya menarik lawan jenis. Tidak harus dengan capit asli, dengan capit buatan pun asal besar menarik perhatian kepiting betina.
Hal itu diberitakan pada 13th Congress of The European Society for Evolutionary Biology. Peneliti mengganti capit kepiting dengan robot dan mencoba menarik perhatian betina dan terbukti bisa.
Menurut penelitian, dengan melambaikan capit robotnya, kepiting betina akan lebih tertarik kepada pejantan. Peneliti mengevaluasi tentang bagaimana ukuran dan kecepatan dari lengan robot ini berpengaruh terhadap lingkungan sekitar, khususnya kegunaannya untuk berkembang biak.
Sophie Callander dari Australian National University mengungkapkan, "Saat ada betina datang, mereka langsung tertarik dengan warna kuning dari capit robot tersebut. Kami menggunakan capit yang dapat diatur secara sepenuhnya yang disebut dengan Robocrab."
Tiga Robocrab mengelilingi si betina untuk dapat mengukur perbedaan dari kecepatan lambaian dan ukuran capit yang dimiliki pejantan. Betina kemudian mendekati pejantan dengan capit terbesar serta tingkat gelombang lambaian yang lebih tinggi.
Selain untuk menarik perhatian, capit yang besar berfungsi untuk melindungi kerabatnya yang lebih kecil. "Hal itu terjadi karena dengan tingkat pertahanan yang lebih besar, maka tingkat keberhasilan perkawinan mereka pun akan semakin tinggi," jelas Callander.
Kepiting yang menjadi percobaan adalah jenis Uca mjoebergi yang hidup di Australia Utara. Para betina akan tertarik kepada pejantan yang menari dan memamerkan ketangguhan capit mereka. Lambaian capit pejantan akan menarik betina yang kemudian masuk ke liang pasir dan tinggal untuk kawin. (fz/National Geographyc)
Ternyata Lumba-lumba Bisa Bicara
Beragam penelitian tentang lumba-lumba dilakukan mengingat satwa tersebut terkenal cerdas. Salah satu yang sebelumnya pernah didapatkan adalah lumba-lumba bisa bersiul. Siulan tersebut digunakan sebagai alat komunikasi antar individu, persis seperti manusia menggunakan bahasa. Namun, penelitian itu ternyata kurang tepat. Lumba-lumba bukan cuma bersiul, tetapi berbicara.
Ilmuwan mengatakan, suara lumba-lumba diproduksi dari vibrasi jaringan yang cara kerjanya hampir mirip dengan organ di kotak suara manusia dan beberapa hewan darat lain. Demikian simpulan Peter Madsen dari Department of Biological Science di Aarhus University, Denmark, setelah melakukan studi tentang cara lumba-lumba berkomunikasi.
Madsen menelaah data digital suara 12 ekor lumba-lumba hidung botol yang direkam pada tahun 1977. Dasar teori penelitian adalah, nada siulan dipengaruhi oleh frekuensi resonansi di saluran udara. Saat lumba-lumba menyelam, saluran udara termampatkan karena tekanan. Artinya, jika memang bersiul, semakin dalam menyelam, ketukan suara lumba- lumba yang dihasilkan akan makin tinggi.
Lumba-lumba juga bisa bersuara di medium udara dan heliox, campuran 80 persen helium dan 20 persen oksigen. Kecepatan suara di medium heliox 1,74 kali lebih tinggi dari udara sehingga jika siulan diproduksi, maka ketukan nadanya akan 1,74 kali lebih tinggi.
"Kami menemukan bahwa ketukan suara lumba-lumba tidak berubah saat memproduksi suara di medium heliox, artinya ketukan tidak ditentukan oleh ukuran saluran udaranya, yang berarti juga lumba-lumba tidak bersiul," urai Madsen.
Lebih lanjut, Madsen menjelaskan, lumba-lumba justru memproduksi suara dengan membuat jaringan ikat di hidung bergetar sesuai dengan frekuensi yang ingin diproduksi dengan menyesuaikan ketegangan otot dan aliran udara di jaringan tersebut. Ini cara yang sama yang digunakan manusia.
Lalu jika lumba-lumba bisa bicara, apa yang dibicarakan? Ilmuwan mengetahui bahwa lumba-lumba saling berbagi informasi tentang identitas mereka sehingga mampu membantu satu sama lain ketika mengarungi wilayah samudera yang luas.
Insinyur akustik John Stuart Reid dan Jack Kassewitz dari organisasi Speak Dolphin membuat instrumen disebut CymaScope yang bisa mengurai detail struktur suara lumba-lumba sehingga "arsitekturnya" bisa dipelajari. Kassewitz mengungkapkan, "Ada bukti kuat bahwa lumba-lumba bisa melihat dengan suara, seperti manusia memakai USG untuk melihat embrio dalam kandungan. CymaScope memberi peluang untuk mengetahui apa yang dilihat lumba-lumba lewat suara." (fz/Discovery)
Mikroskop Hologram Deteksi Bakteri E. Coli
Written By Uneg Uneg on Kamis, 08 September 2011 | Kamis, September 08, 2011
Pojokberita.com - Sebuah mikroskop hologram yang bisa mendeteksi E.Coli dan bakteri lainnya tengah dikembangkan oleh para peneliti di Amerika Serikat. Mikroskop ini ringkas dan murah harganya.
Tidak seperti mikroskop pada umumnya yang menggunakan lensa, perangkat yang bisa digenggam ini menggunakan laser untuk mengidentifikasi bakteri di air, makanan atau darah. Citra yang dihasilkan bisa disimpan di ponsel, laptop, atau bahkan diunggah ke server internet untuk analisa lebih lanjut. Dibutuhkan biaya sekitar 100 dolar untuk membuatnya.
Perangkat ini dilengkapi dua mode pengoperasian: mode transmisi yang bisa menganalisa cairan seperti air dan darah, dan mode refleksi yang menghasilkan citra hologram dari permukaan yang lebih padat.
"Mode transmisi bagus digunakan untuk mencari benda-benda transparan seperti sel," kata Dr Karl Ryder dari Advanced Microscopy Centre, Leicester University.
"Akan tetapi, jika kita ingin meneliti objek yang lebih padat, mode transmisi tidak bisa digunakan, karena cahaya tidak bisa menembusnya," tambahnya.
Pada mode refleksi, mikroskop menggunakan holografi untuk membuat citra tiga dimensi dari sampel yang diteliti. Diperlukan laser yang cahayanya dipisah jadi dua dengan menggunakan cermin. Salah satu cahaya lalu digunakan untuk mengiluminasi sampel yang akan diteliti. Kedua cahaya lalu dikombinasi ulang dengan perhitungan matematis sehingga didapat citra tiga dimensi dari sampel tersebut.
Kunci kecanggihan mikroskop ini terletak pada penggunaan komponen elektronik yang relatif lebih murah dibanding lensa-lensa mahal. Alat yang digunakan adalah sebuah sensor foto digital yang jamak ditemukan pada berbagai perangkat seperti iPhone dan Blackberry. Harganya hanya 15 dolar.
"Tidak ada optik sama sekali. Mikroskop ini dibuat dengan sangat kecil untuk mengamati sampel berukuran kecil. Dengan begitu tidak perlu fokus yang kompleks," kata Dr Karl.
Para ilmuwan berharap teknologi ini akan memudahkan dunia kesehatan dalam hal ketersediaan perangkat diagnosa yang canggih. Dengan sedikit pelatihan, para dokter bisa memanfaatkan alat ini untuk pelayanan kesehatan di daerah terpencil.
Informasi lengkap tentang mikroskop yang dibuat oleh University of California, Los Angeles (UCLA) ini dimuat di jurnal Biomedical Optics Express. (fz/BBC)